ISPPI Gelar Diskuksi Publik: Penyerangan Ulama: Kriminal Murni Atau Rekayasa

Jakarta – Kasus penyerangan ulama yang diduga dilakukan oleh orang gila mendapat perhatian serius dari Ikatan Sarjana dan Profesi Perpolisian Indonesia (ISPPI).

Dengan maksud memfasilitasi publik mendapatkan informasi yang jelas dan komprehensif mengenai kasus atau isu tersebut, ISPPI menggelar Diskuksi Publik dengan tema “Penyerangan Ulama: Kriminal Murni Atau Rekayasa”, bertempat di Auditorium PTIK, Kebayoran Baru, Rabu (4/4/2018) pukul 12.30 wib.

Sederet narasumber kompeten tampil dalam diskusi yaitu, Prof. Dr. Mahfud MD (Pakar Hukum), Muhammad Syafi’I, SH, M.Hum (Anggota Komisi III), Dr. Wawan Purwanto (Pengamat Intelijen/BIN), Dr. A Kusumawardhani, SpKJ(K) (Departemen Psikiatri UI), IRJEN Pol. Drs. Gatot Edy Pramono, M.Si (Ketua Satgas Nusantara), BRIGJEN. Pol. Drs. H. Ahmad Dofiri, M.Si (Kapolda D.I.Y), KOMBES Pol Drs. Umar Surya Fana (Dir Reserse Kriminal Umum Polda Jabar), dan KH. Umar Basri/yang mewakili (Ulama/Pengasuh Ponpes Al-Hidayah Cicalengka, Korban).

Berita penyerangan ulama ini mengheboh akibat penyebaran informasi yang masif dan viral melalui sosial media, apalagi dibumbui berita hoaks segala dalam Andi eka kasus yang beredar.

Menurut Ketua Umum ISPPI IRJEN Pol (purn) Farouk Muhammad, melahirkan kondisi ketidakpercayaan yang meluas pada informasi, terutama pada Pemerintah.

Masyarakat bertanya-tanya, apakah satu kebetulan yang menjadi sasaran ‘orang gila’ adalah tokoh dan simbol-simbol agama. Apakah mungkin orang gila bisa memilih dan menentukan sasarannya.

Begitu masifnya informasi penyerangan yang meresahkan, benarkah yang riil terjadi hanya sedikit peristiwa sementara sebagian besar lainnya berita hoaks? Jika pun hanya beberapa yang faktual, benarkah dilakukan oleh orang gila, apakah hasil pemeriksaan medik menyatakan pelaku gila, lalu apa benar-benar tidak ada motif dan skenario? Lalu mengapa berita dan informasinya di media sosial maupun media cetak dan elektronik sempat begitu heboh?

Apa ada motif dan skenario tertentu yang lebih besar, apakah ada hubungannya dengan riak demokrasi atau bahkan desain besar dari pihak-pihak luar? Mengapa pula aparat kepolisian terkesan diragukan independensinya dalam penanganan dan penyelasaian kasus ini? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di masyarakat dan memantik diskusi yang lebih luas dan mendalam.

Akibat masifnya informasi, timbul keresahan di dalam masyarakat. Bukan hanya keresahan, dalam kajian ISPPI, kasus ini juga menimbulkan syak wasangka dan membuat blok “kami vs mereka” karena menyangkut ulama yang memiliki posisi penting atau terhormat dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

“Dalam kondisi bangsa yang turbulen, isu tersebut tidak bisa dibiarkan terus karena disharmoni sosial yang mereka rasakan dapat meningkat menjadi disorganisasi sosial bahkan disintegrasi bangsa,” kata IRJEN Pol (Purn) Farouk Muhammad yang juga Guru Besar STIK atau PTIK.

Untuk itu, ISPPI mendorong aparat kepolisian agar menangani kasus atau isu ini dengan sebaik-baiknya, secara komprehensif, transparan, dan akuntabel mengingat kondisi distrust yang terlanjur meluas di tengah masyarakat.

Dalam menangani kasus atau isu tersebut ISPPI juga memberikan rambu-rambu agar:
Pertama, jangan menyematkan golongan tertentu sebagai subjek yang dicurigai
Kedua, ungkap perbuatan dan person pelaku
Ketiga, siapapun yang melakukan adalah musuh bersama “Mengingat persepsi dan opini tentang kasus ini sudah berkembang sedemikian rupa, selain penegakan hukum yang tegas, kepolisian harus aktif dalam fungsi kehumasan, silaturahim, merangkul dan membangun kolaborasi dengan elemen masyarakat khususnya yang mengalami distrust akibat informasi salah yang diterimanya,” ucap IRJEN Pol (purn) Farouk.

Langkah Polri membentuk Satgas Nusantara diapresiasi ISPPI sebagai bagian dari upaya mendinginkan suasana karena tugas dan pekerjaannya dominan pencegahan dan persuasi, merangkul dan membangun kolaborasi.

“Untuk itu, ISPPI berharap agar publik mendukung Satgas Nusantara agar kondisi kamtibmas kembali aman, tenteram, dan damai,” ucap IRJEN Pol (purn) Farouk. ( Sri/Zai)

CATEGORIES
TAGS
Share This