JAKARTA — Sari Putri, sosok berjaket almamater Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) yang viral dalam kegiatan Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran Hotel Indonesia (HI), akhirnya muncul ke publik dan meminta maaf. Lewat video klarifikasi, ia menegaskan dirinya bukan mahasiswa aktif UBSI.
Sari mengaku jaket almamater berlogo Universitas BSI yang ia kenakan merupakan pemberian dari seseorang yang tidak ia kenal. Pihak kampus pun menegaskan tidak pernah menerima informasi resmi soal penugasan mahasiswa untuk acara tersebut.
Ironi di Panggung Sumpah Pemuda
Kejadian ini terasa getir karena terjadi di acara yang mengusung semangat Sumpah Pemuda. Ikrar 28 Oktober 1928 itu lahir dari para pemuda dan pelajar yang berani menyatakan jati diri mereka apa adanya.
Nyaris seabad kemudian, panggung yang sama justru diwarnai pertanyaan paling dasar: apakah mereka yang berdiri di sana benar-benar mahasiswa?
Jaket almamater bukan sekadar pakaian. Bagi mahasiswa, jaket itu adalah identitas yang didapat lewat proses panjang di bangku kuliah. Ketika atribut itu dikenakan oleh orang yang bukan bagian dari kampus, wajar bila publik dan sivitas akademika merasa tercoreng.
Berawal dari “Mahasiswa” yang Gelagapan Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI diselenggarakan oleh Polda Metro Jaya. Acara itu dihadiri sejumlah selebritas, mulai dari Raffi Ahmad hingga Willy Salim, serta sejumlah orang yang diundang sebagai perwakilan mahasiswa.
Polemik mencuat ketika beberapa orang yang mengaku mahasiswa tampak gelagapan saat ditanya wartawan. Kolom komentar di media sosial pun dibanjiri kesaksian warganet yang meragukan status mereka sebagai mahasiswa.
Salah satu yang paling disorot adalah sosok yang mengaku bernama Sari dan mengenakan jaket almamater UBSI. Sejumlah warganet bahkan mengaku mengenali sosoknya dan menyebut ia bukan mahasiswa.
Sorotan pun melebar. Bukan hanya soal satu orang, warganet mulai mempertanyakan siapa saja sebenarnya yang dihadirkan sebagai “mahasiswa” di acara itu, dan bagaimana mereka bisa berada di sana. Nama UBSI ikut terseret karena logo kampus terpampang jelas di jaket yang dikenakan Sari.
Selama dua hari, polemik ini terus bergulir tanpa kejelasan, hingga Sari akhirnya buka suara.
Sari: “Saya Bukan Mahasiswa Aktif UBSI”
Dua hari setelah polemik bergulir, Sari Putri merilis video permintaan maaf secara terbuka. Ia menyampaikan permohonan maaf langsung kepada sivitas kampus yang almamaternya ia kenakan.
“Saya memohon maaf kepada seluruh mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika atas polemik yang terjadi terkait penggunaan almamater berlogo lama BSI dalam kegiatan Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI,” ujar Sari.
Ia juga meluruskan statusnya. “Dengan ini saya menegaskan bahwa saya bukan mahasiswa aktif UBSI. Almamater yang saya gunakan merupakan pemberian dari seseorang yang tidak saya kenal dan bukan merupakan identitas resmi saya sebagai mahasiswa UBSI,” katanya.
Sari mengakui tindakannya telah memicu salah paham. “Saya menyadari bahwa penggunaan almamater tersebut telah menimbulkan kesalahpahaman dan berdampak bagi institusi. Atas hal tersebut, saya memohon maaf sebesar-besarnya dan bertanggung jawab atas tindakan saya,” tuturnya.
Pengakuan itu menjawab satu pertanyaan, tetapi memunculkan pertanyaan baru.
Jika Sari bukan mahasiswa, mengapa ia bisa berada di barisan mahasiswa?
Dan siapa orang yang menyerahkan jaket almamater itu kepadanya?
Dalam klarifikasinya, Sari tidak menyebut identitas sosok tersebut. Ia hanya menyebutnya sebagai seseorang yang tidak ia kenal.
UBSI: Tak Pernah Ada Penugasan Resmi
Wakil Rektor II Bidang Non-Akademik UBSI, Adi Supriatta, mengatakan pihak rektorat maupun organisasi kemahasiswaan tidak pernah menerima informasi resmi mengenai undangan atau penugasan mahasiswa untuk menghadiri kegiatan tersebut.
Menurut Adi, kampus justru mengetahui dari kolom komentar media sosial bahwa jas almamater yang dikenakan merupakan atribut pinjaman. UBSI menyayangkan kejadian ini, terlebih karena acara tersebut digelar oleh lembaga resmi.
Pihak kampus juga meminta publik tidak menggeneralisasi persoalan ini. “Tindakan dan pernyataan yang bersangkutan tidak mewakili sikap resmi maupun kepentingan institusi UBSI. Kami berharap masyarakat dapat menyikapi persoalan ini secara objektif dan tidak mengaitkan tindakan individu tersebut dengan seluruh mahasiswa maupun sivitas UBSI,” demikian pernyataan UBSI.
Siapa Pemberi Jaket Masih Misterius
Permintaan maaf Sari dan klarifikasi UBSI memang meredam sebagian polemik. Namun, persoalan intinya belum tuntas.
Identitas orang yang memberikan jaket almamater kepada Sari di lokasi acara masih belum terungkap. Publik juga masih menunggu penjelasan tentang bagaimana proses undangan mahasiswa dalam acara itu berjalan, dan apakah Sari satu-satunya yang hadir dengan status yang dipertanyakan.
Bagi UBSI, yang terpenting kini adalah memulihkan nama baik kampus dan mahasiswanya. Bagi publik, kasus ini menjadi pengingat bahwa di era media sosial, kejanggalan sekecil apa pun di depan kamera bisa cepat terbongkar.

