Di Malam Sakral, Tiga Jenderal Jadi Tersangka, Mualem Datangi Kediaman Kapolri: Ini yang Dibahas.

JAKARTA — Selasa, 3 November 2026, menjadi hari yang sibuk bagi Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto. Pada hari yang sama ketika Bareskrim Polri mengumumkan tiga jenderal sebagai tersangka kasus penyadapan Presiden, Suyudi menerima tamu penting dari ujung barat Indonesia: Gubernur Aceh Muzakir Manaf, yang akrab disapa Mualem. Pertemuan itu berlangsung di kediaman Kapolri di Jakarta.

Mualem datang didampingi Staf Khusus Gubernur Aceh, Teuku Irsyadi. Meski digelar di tengah sorotan tajam terhadap Polri, dari yang disampaikan ke publik, pembicaraan keduanya berpusat pada Aceh: perdamaian, keamanan, dan perang melawan narkoba.

“Damai Aceh Harus Dijaga Bersama”, Salah satu topik utama yang dibahas adalah keberlanjutan perdamaian Aceh. Bagi Mualem, isu ini sangat personal. Ia adalah mantan panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang kini memimpin Aceh sebagai gubernur, dua dekade setelah perjanjian damai Helsinki ditandatangani pada 2005.

Dalam pertemuan itu, Mualem menekankan bahwa perdamaian yang sudah terbangun selama ini harus terus dirawat. Ia ingin Aceh tetap aman, damai, dan kondusif. Untuk itu, menurutnya, kerja sama antara Pemerintah Aceh, Polri, TNI, dan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci. Keduanya juga membahas perkembangan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di Aceh, serta langkah bersama menjaga stabilitas daerah.

Apresiasi untuk Perang Melawan Narkoba. Topik lain yang menonjol adalah pemberantasan narkoba. Mualem menyampaikan apresiasi kepada jajaran Polri atas penindakan tegas terhadap peredaran gelap narkotika di Aceh.
Ia menegaskan, Pemerintah Aceh mendukung penuh upaya Polri dalam memberantas narkoba. Menurutnya, persoalan ini sangat serius karena menjadi ancaman nyata bagi masa depan generasi muda Aceh. Karena itu, penanganannya tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja, melainkan harus dikerjakan bersama.

Secara keseluruhan, silaturahmi ini menjadi upaya Pemerintah Aceh memperkuat koordinasi, sinergi, dan komunikasi dengan Polri di tingkat pusat. Hubungan yang erat antara pemerintah daerah dan kepolisian dinilai penting, terutama untuk menjaga keamanan di provinsi yang memiliki sejarah konflik panjang.

Kunjungan Mualem terjadi di pekan yang sangat sibuk bagi Kapolri. Di hari yang sama, Bareskrim Polri menetapkan mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bersama dua jenderal lain sebagai tersangka kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden, lalu menahan ketiganya. Di saat bersamaan, Suyudi juga tengah menjalankan agenda bersih-bersih internal yang menuai dukungan dari berbagai kalangan.

Di tengah situasi itu, kehadiran Gubernur Aceh menjadi pengingat bahwa tugas Polri tidak hanya soal membenahi diri, tetapi juga menjaga keamanan di daerah, dari Sabang sampai Merauke.

Harapan untuk Aceh
Bagi Aceh, dukungan Polri dalam menjaga perdamaian dan memerangi narkoba adalah dua hal yang tak terpisahkan dari masa depan daerah. Mualem berharap semua pihak terus menjaga suasana damai dan memperkuat kebersamaan, sehingga keamanan dan ketertiban di Tanah Rencong tetap terpelihara.

Pertemuan di kediaman Kapolri ini pun diharapkan tidak berhenti sebagai silaturahmi, tetapi berlanjut menjadi kerja sama nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat Aceh.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *