Dijanjikan Segera, Peresmian Listrik Desa oleh Presiden Prabowo di Polman Kembali Tertunda

POLEWALI MANDAR — Gedung tempat acara sudah mulai dihias dan sekitar 1.200 undangan telah disiapkan. Namun, Presiden Prabowo Subianto batal datang. Peresmian program listrik desa yang dijadwalkan digelar di Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, pada Rabu, 4 November 2026, kembali ditunda.

Ini bukan penundaan pertama. Sebelumnya, peresmian yang sama di Polman juga batal digelar pada Agustus lalu. Hingga kini, belum ada jadwal pengganti yang diumumkan.

Janji “Dalam Waktu Dekat”
Kabar peresmian ini sebelumnya disampaikan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, usai rapat terbatas bersama Presiden di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2026.

Bahlil menyebut Presiden akan segera meresmikan sekitar 1.413 titik listrik desa hasil program tahun 2025, dengan Sulawesi sebagai lokasi peresmian. Ia juga mengungkapkan bahwa hingga kini masih ada hampir 11.000 desa dan dusun di Indonesia yang belum menikmati aliran listrik.

Polman kemudian dipilih sebagai tuan rumah. Acara direncanakan dipusatkan di Gedung Gabungan Dinas (Gadis), Kelurahan Pekkabata, Kecamatan Polewali, dengan 934 penerima manfaat dari 32 desa dan 2 kelurahan.

Dua Kali Batal di Tempat yang Sama Rencana itu kandas. Kementerian ESDM melalui Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan menerbitkan surat penundaan tertanggal 3 November 2026, menjelang hari pelaksanaan. Peresmian ditunda hingga pemberitahuan lebih lanjut, tanpa penjelasan rinci soal alasannya.

Skenario serupa pernah terjadi tiga bulan sebelumnya. Pada akhir Juli, pemerintah menyatakan peresmian listrik desa di sekitar 1.400 lokasi akan dilakukan sebelum 14 Agustus 2026.

Polman juga sudah bersiap menyambut Presiden pada 10 Agustus. Tenda didirikan, kursi dan layar lebar dipasang. Namun, sehari sebelumnya Kementerian ESDM mengirim surat penundaan dengan alasan singkat: ada kegiatan lain di tingkat pusat. Seluruh perlengkapan pun dibongkar kembali.

Angka yang Tak Seragam
Di tengah penundaan, angka yang beredar pun berbeda-beda. Pemerintah pusat menyebut sekitar 1.413 titik. Sementara itu, tema acara di Polman berbunyi “Energi untuk Negeri: Peresmian 1.403 Lokasi Listrik Perdesaan dan 15 Pembangkit Energi Terbarukan di 36 Provinsi”. Selisihnya memang kecil, tetapi menunjukkan rincian program belum disampaikan secara seragam kepada publik.

Target Besar, Medan Berat Program listrik desa merupakan bagian dari ambisi pemerintah agar seluruh desa di Indonesia teraliri listrik secara merata pada 2029–2030. Sesuai peta jalan, sekitar 1.400 desa ditargetkan teraliri listrik pada 2025, disusul lebih dari 4.000 desa pada 2026.

Pemerintah menjalankan dua strategi utama: membangun jaringan listrik hingga ke desa, serta program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) bagi warga kurang mampu yang terbebani biaya pemasangan baru sekitar Rp 2 juta per rumah.

Tantangannya tidak ringan. Desa yang belum berlistrik umumnya berada di pegunungan, kepulauan, dan dusun terisolasi. Di wilayah seperti itu, PLN bisa harus menarik jaringan sepanjang satu kilometer hanya untuk melayani sekitar 100 rumah.

Bahkan, menurut Bahlil, masih ada dusun di Pulau Jawa yang belum memiliki tiang listrik.
Dengan sisa hampir 11.000 desa dan dusun, 1.413 titik yang hendak diresmikan baru sebagian kecil dari pekerjaan rumah pemerintah.
Warga Butuh Lebih dari Seremoni
Menjelang rencana kunjungan, sorotan juga datang dari Polman sendiri.

KAMMI Mandar Raya mengingatkan agar kedatangan pemerintah pusat tidak sekadar menjadi agenda seremonial.
Menurut organisasi mahasiswa itu, warga Polman masih bergulat dengan persoalan sehari-hari: sulitnya mendapatkan BBM, distribusi LPG yang tidak menentu, hingga pemadaman listrik bergilir yang terus berulang.

Kondisi jalan di sejumlah wilayah pelosok juga dinilai masih memprihatinkan.
Menunggu Kepastian
Penundaan kedua ini menyisakan pertanyaan: kapan peresmian benar-benar digelar, dan apakah penundaan acara berpengaruh pada warga yang dijadwalkan menerima manfaat?

Sejauh ini, Kementerian ESDM belum menjelaskan alasan penundaan secara rinci maupun jadwal penggantinya. Bagi ratusan keluarga di Polman dan ribuan lainnya di berbagai daerah, yang paling ditunggu tentu bukan seremoninya, melainkan kepastian bahwa listrik benar-benar menyala di rumah mereka.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *